Buku Cetak
Transformasi pengelolaan pulau-pulau terluar melalui pengembangan kontektivitas transpotrasi laut dan udara guna memperkuat ketahanan nasional
Penelitian ini berjudul ‘Transformasi Pengelolaan Pulau-Pulau Terluar melalui Pengembangan Konektivitas Transportasi Laut dan Udara guna Memperkuat Ketahanan Nasional”. mengkaji permasalahan keterisolasian dan belum optimalnya konektivitas pada 111 Pulau-Pulau Kecil Terluar (PPKT) yang tersebar di 22 provinsi dan berbatasan dengan 10 negara. Kondisi tersebut ditandai disparitas harga kebutuhan pokok, keterbatasan transportasi reguler, serta lemahnya kehadiran negara yang berpotensi menimbulkan kerentanan terhadap kedaulatan dan ketahanan nasional. Rumusan masalah penelitian adalah bagaimana transformasi pengelolaan pulau-pulau terluar melalui pengembangan konektivitas transportasi laut dan udara guna memperkuat Ketahanan Nasional. Tujuannya adalah mengkaji dan merumuskan langkah strategis berbasis data dan fakta untuk mendukung kebijakan transformasi pengelolaan PPKT.
Penelitian menggunakan metode kualitatif-deskriptif melalui studi kepustakaan dan analisis data sekunder dengan pendekatan multidisiplin. Analisis dilakukan menggunakan SWOT untuk memetakan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman serta Astagatra Lemhannas RI untuk menganalisis dampak konektivitas terhadap aspek geografi, sumber daya alam, demografi, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan. Landasan teoritis yang digunakan meliputi Teori Transformasi Tata Kelola (Governance Transformation), Teori Konektivitas Rodrigue, Comtois & Slack (2017), serta konsep Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional.
Hasil penelitian menunjukkan tiga akar masalah utama, yaitu fragmentasi kelembagaan, ketiadaan Standar Pelayanan Minimum (SPM) yang mengikat, dan rendahnya muatan balik yang saling memperkuat dan menyebabkan tingginya biaya logistik, keterbatasan layanan dasar, serta belum optimalnya kehadiran negara di PPKT. Untuk mengatasinya dirumuskan lima langkah strategis, yaitu pembangunan jaringan hub-and-spoke, pembentukan badan koordinasi nasional dan penetapan SPM, pengembangan ekosistem muatan balik, penguatan kehadiran negara melalui Pos Layanan Terpadu, serta digitalisasi ekosistem logistik. Kesimpulannya, transformasi konektivitas PPKT merupakan prasyarat mutlak Ketahanan Nasional, karena berfungsi sebagai perekat integrasi wilayah NKRI, instrumen penguatan kedaulatan, dan penggerak kesejahteraan masyarakat perbatasan menuju Indonesia Emas 2045.
Kata kunci: PPKT; konektivitas transportasi laut dan udara; hub-and-spoke; Tol Laut; Angkutan Udara Perintis; Ketahanan Nasional.
Tidak tersedia versi lain