Buku Cetak
Optimalisasi sekolah rakyat guna meningkatkan SDM unggul di wilayah 3T dalam rangka memperkokoh ketahanan nasional
Program Sekolah Rakyat merupakan kebijakan strategis pemerintahan Presiden Prabowo yang telah mengoperasikan 166 sekolah di 34 provinsi dengan 15.954 siswa, namun implementasinya di wilayah 3T masih menghadapi tantangan multidimensional berupa ketidakakuratan data DTSEN, krisis guru dengan masa bertahan hanya 2-3 tahun, keterbatasan infrastruktur listrik dan internet, serta kesenjangan antara standar kemiskinan nasional (0,85%) dengan realitas global Bank Dunia yang menyatakan 60,3% penduduk Indonesia masih miskin. Optimalisasi program memerlukan pendekatan terintegrasi berbasis Human Capital Theory dan HRD Theory melalui perbaikan data sasaran dengan verifikasi berbasis komunitas, pembentukan Program Guru Kader 3T dengan insentif 2 kali lipat dan jaminan karier, pembangunan infrastruktur digital mandiri energi berbasis offlinefirst dan satelit, serta pengalokasian mandatory spending 25% APBN yang tidak dapat diganggu gugat untuk menjamin keberlanjutan lintas pemerintahan. Pemerintah perlu mendorong pengesahan UU khusus Sekolah Rakyat sebagai ideologi pendidikan nasional permanen, mewajibkan lulusan berkarya minimal 2 tahun di wilayah 3T dengan insentif negara untuk mencegah brain drain, serta membangun sistem tracking lulusan hingga 10 tahun guna mengukur return on investment pendidikan dan memastikan anak-anak 3T menjadi benteng SDM di garda terdepan negara. Dengan strategi tiga horizon, yakni jangka pendek konsolidasi infrastruktur, jangka menengah ekspansi 500 sekolah/500.000 siswa, dan jangka panjang pencapaian 0% kemiskinan ekstrem di 3T, Sekolah Rakyat dapat bertransformasi dari sekolah gratis menjadi lokomotif pembangunan SDM unggul sekaligus memperkokoh ketahanan nasional dari akar rumput.
Tidak tersedia versi lain