Buku Cetak
Penguatan peran intelijen dalam mendeteksi dini ancaman post truth guna mencegah polarisasi sosial dalam rangka mewujudkan ketahanan nasional
Ancaman post-truth telah berkembang menjadi salah satu tantangan strategis bagi Indonesia karena bekerja melalui manipulasi persepsi, emosi kolektif, dan konstruksi narasi publik yang dapat memicu polarisasi sosial serta melemahkan ketahanan nasional. Perkembangan teknologi informasi, tingginya penetrasi internet, dan dominasi media sosial telah mempercepat penyebaran disinformasi, hoaks, propaganda digital, serta narasi berbasis identitas yang sering kali lebih cepat diterima publik dibandingkan klarifikasi berbasis fakta. Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, kondisi ini berpotensi menurunkan kepercayaan terhadap institusi negara, mengganggu stabilitas sosial-politik, dan merusak kohesi kebangsaan. Penguatan peran intelijen negara menjadi kebutuhan strategis, terutama untuk menjalankan fungsi deteksi dini dan peringatan dini terhadap ancaman informasi yang berkembang di ruang digital. Intelijen tidak lagi cukup berfokus pada ancaman fisik, tetapi harus mampu membaca dinamika opini publik, pola penyebaran narasi, intensitas amplifikasi isu, serta potensi eskalasi konflik sosial. Meskipun Indonesia telah memiliki dasar hukum, legitimasi kelembagaan, dan jaringan informasi yang memadai, efektivitas peran intelijen masih menghadapi kendala pada integrasi data, kapasitas analitik digital, serta koordinasi lintas lembaga. Karena itu, diperlukan penguatan sistem deteksi dini yang adaptif, terintegrasi, dan prediktif melalui modernisasi teknologi analitik, peningkatan kualitas SDM, penguatan koordinasi nasional, serta perluasan literasi digital masyarakat agar stabilitas nasional tetap terjaga.
Tidak tersedia versi lain