Buku Cetak
Rekalibrasi indikator demografi guna mewujudkan indeks ketahanan nasional yang specific, measurable, achievable, relevant, and time-bound (SMART) dalam rangka mempersiapkan SDM unggul 2045
Indonesia saat ini berada pada fase transisi demografi yang ditandai oleh bonus demografi sekaligus tantangan penuaan penduduk (population ageing), urbanisasi, mobilitas penduduk, transformasi pasar kerja, serta ketimpangan kualitas sumber daya manusia (SDM) antarwilayah. Dinamika tersebut menunjukkan bahwa isu demografi tidak lagi berkaitan dengan kuantitas penduduk semata, tetapi telah menjadi faktor strategis yang memengaruhi kualitas SDM dan ketahanan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Namun demikian, indikator gatra demografi dalam Indeks Ketahanan Nasional belum mampu merepresentasikan dinamika kependudukan yang semakin kompleks dan multidimensional. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan sistem pengukuran ketahanan nasional kurang sensitif dalam mendeteksi perubahan strategis yang memengaruhi kualitas SDM dan pembangunan nasional. Berdasarkan kondisi tersebut, Taskap ini bertujuan merekalibrasi indikator gatra demografi melalui evaluasi indikator eksisting, pemilihan indikator yang lebih relevan dengan dinamika kependudukan dan kebutuhan kebijakan nasional, serta penyusunan indeks komposit menggunakan OECD Composite Indicator Framework yang dipadukan dengan Analytical Robustness Method (ARM) dan metode Hybrid AHP–PCA. Hasil kajian menunjukkan bahwa ketahanan demografi antarprovinsi sangat bervariasi, dengan Jawa Barat memperoleh skor tertinggi (4,12) dan Papua Selatan terendah (2,54), sekaligus menegaskan bahwa ketahanan demografi tidak lagi ditentukan oleh jumlah penduduk semata, melainkan juga oleh kualitas pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, pembangunan keluarga, perlindungan sosial, dan kapasitas pembangunan wilayah. Rekalibrasi dalam Taskap ini tidak hanya menghasilkan skor Indeks Ketahanan Demografi, tetapi juga mampu mengidentifikasi tiga rumpun indikator dengan kinerja terendah pada setiap provinsi sebagai prioritas intervensi pemerintah, sehingga rekomendasi kebijakan menjadi lebih spesifik, terarah, dan sesuai dengan karakteristik permasalahan masing-masing daerah. Dengan demikian, indikator yang dihasilkan telah memenuhi prinsip Specific, Measurable, Achievable, Relevant, and Time-Bound (SMART) sehingga Indeks Ketahanan Nasional diharapkan mampu berfungsi sebagai early warning system sekaligus menjadi instrumen yang lebih adaptif dan berbasis bukti dalam mendukung pengambilan kebijakan serta memperkuat ketahanan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Tidak tersedia versi lain